Sumber: http://yanaheryana.blogspot.com/2011/01/meningkatkan-hasil-belajar-siswa-pada.html
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pembelajaran merupakan salah satu tindakan edukatif yang dilakukan guru di dalam kelas melalui proses pembelajaran dengan tindakannya berorientasikan pada pengembangan diri atau pribadi siswa secara utuh, artinya terjadi pengembangan pengetahuan, keterampilan, dan sikap dalam diri siswa. Proses pembelajaran merupakan salah satu faktor penting untuk memperoleh hasil yang baik, sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai guna meningkatkan kualitas belajar siswa. Oleh karena itu, dalam proses pembelajaran guru harus benar-benar kompenten dalam menciptakan aktivitas pembelajaran melalui serangkaian kegiatan untuk memberikan pengalaman belajar yang berkaitan dengan aspek kognitif, aspek afektif, dan aspek psikomotor.
Adapun salah satu disiplin ilmu yang diajarkan di sekolah dasar adalah Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Pembelajaran IPA berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan.
IPA secara harfiah dapat disebut sebagai ilmu pengetahuan tentang alam atau yang mempelajari peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam. Hal itu sebagaimana dikemukakan oleh Darmojo (dalam Samatowa, 2006: 2) bahwa, “Secara singkat IPA adalah pengetahuan yang rasional dan objektif tentang alam semesta dengan segala isinya”. Kemudian Nash, 1993 (dalam Samatowa, 2006: 2) juga mengungkapkan sebagai berikut :
IPA itu adalah suatu cara atau metode untuk mengamati alam yang bersifat analisis, lengkap, cermat serta menghubungkan antara satu fenomena dengan fenomena lain, sehingga keseluruhannya membentuk suatu perspektif yang baru tentang objek yang diamatinya.
Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut, dapat diketahui bahwa hakikat pembelajaran IPA yaitu membahas tentang berbagai gejala alam yang disusun secara sistematis dan didasarkan pada pendekatan empirik dengan anggapan bahwa alam semesta ini dapat dipelajari, dipahami dan dijelaskan melihat suatu proses tertentu, seperti pengamatan (observasi), percobaan (eksperimen), dan analisis yang rasional.
Dengan demikian, IPA bukan hanya terdiri atas kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta atau konsep-konsep yang harus dihapal, melainkan terdiri atas proses berpikir secara aktif untuk mempelajari gejala-gejala alam yang belum dapat diterangkan melalui suatu penemuan.
Sesuai dengan hakikatnya tersebut, pembelajaran IPA di Sekolah Dasar hendaknya diselenggarakan melalui pengalaman langsung (learning by doing). Dengan cara belajar mengalami langsung, daya ingat siswa akan menjadi lebih kuat, karena siswa melakukan sendiri percobaan-percobaan dengan menggunakan media belajar yang ada di lingkungannya.
Hal tersebut sejalan dengan pendapat yang dikemukakan oleh Piaget (dalam Samatowa, 2006: 12) bahwa :
Pengalaman langsung yang memegang peranan penting sebagai pendorong lajunya perkembangan kognitif anak. Pengalaman langsung anak terjadi secara spontan sejak lahir sampai anak berumur 12 tahun. Efisiensi pengalaman langsung tergantung pada konsistensi antara hubungan metode dan objek dengan tingkat perkembangan kognitif anak. Anak akan siap untuk mengembangkan konsep tertentu hanya bila anak telah memiliki struktur kognitif (skemata) yang menjadi prasyaratnya, yakni perkembangan kognitif yang bersifat hierarkis dan integratif.
Pendidikan IPA juga diharapkan dapat menjadi wahana bagi siswa untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga dalam proses pembelajarannya diarahkan untuk ”mencari tahu” dan ”berbuat” dengan menekankan pada pemberian pengalaman langsung melalui penggunaan dan pengembangan keterampilan proses dan sikap ilmiah agar siswa menemukan sendiri bahan pembelajaran berdasarkan hasil pengamatannya sehingga materi yang dipelajari lebih membekas pada diri siswa. Melalui pemberian pengalaman langsung juga dapat membantu siswa memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar secara ilmiah.
Melalui pembelajaran seperti itu, siswa dilatih untuk berpartisipasi secara aktif dan kreatif dalam melakukan berbagai praktikum, sehingga penguasaan konsep akan lebih mudah dan pembelajaranpun akan menjadi lebih bermakna (meaningful learning).
Selain itu, dengan pembelajaran melalui pengalaman langsung seperti disebutkan di atas, siswa dapat mengembangkan sikap ilmiah dan sistem nilai dalam proses keilmuannya. Sikap ilmiah tersebut meliuputi sikap kritis, hasrat ingin tahu, hati-hati, tekun, kreatif untuk penemuan baru, berpikiran terbuka, sensitif terhadap lingkungan dan bekerjasama dengan orang lain. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Gega (dalam Bundu, 2006: 19) bahwa pada tingkat Sekolah Dasar ada empat sikap yang perlu dikembangkan, yakni (1) sikap ingin tahu (curioucity), (2) penemuan (inventiveness), (3) berpikir kritis (critical thinking), (4) teguh pendirian (presistence). Semua sikap ilmiah tersebut relevan dengan karakteristik pembelajaran IPA, sehingga sangat penting untuk dimiliki siswa dalam upaya mengembangkan kepribadiannya.
Oleh karena itu, pembelajaran IPA di SD/MI hendaknya menekankan pada pemberian pengalaman belajar secara langsung melalui penggunaan dan pengembangan keterampilan proses dan sikap ilmiah melalui percobaan-percobaan yang materinya dihubungkan dengan konsepsi awal (skemata) siswa sebagaimana yang tercantum dalam standar isi kurikulum.
Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) IPA di SD berdasarkan Kurikulum KTSP merupakan standar minimum yang secara nasional harus dicapai oleh peserta didik dan menjadi acuan dalam pengembangan kurikulum di setiap satuan pendidikan. Pencapaian SK dan KD didasarkan pada kemampuan bekerja ilmiah, dan pengetahuan sendiri yang difasilitasi oleh guru.
Berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) mata pelajaran IPA di SD bertujuan agar siswa memiliki kemampuan sebagai berikut :
1. Memperoleh keyakinan terhadap kebesaran Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan keberadaan, keindahan dan keteraturan alam ciptaan-Nya.
2. Mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep IPA yang bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
3. Mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positif dan kesadaran tentang adanya hubungan saling mempengaruhi antara IPA, lingkungan, teknologi dan masyarakat.
4. Mengembangkan keterampilan proses untuk menyelidiki alam sekitar, memecahkan masalah dan membuat keputusan.
5. Meningkatkan kesadaran untuk berperan serta dalam memelihara, menjaga dan melestarikan lingkungan alam.
6. Meningkatkan kesadaran untuk menghargai alam dan segala keteraturannya sebagai salah satu ciptaan Tuhan.
7. Memperoleh bekal pengetahuan, konsep dan keterampilan IPA sebagai dasar untuk melanjutkan ke SMP/MTs. (Depdiknas, 2008: 148).
Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006 IPA Kelas V, terdapat indikator yang menunjukkan bahwa siswa kelas V harus mampu mengidentifikasi benda-benda yang dapat kembali dan tidak dapat kembali ke wujud semula setelah mengalami perlakuan dan menyimpulkan benda yang dapat kembali dan tidak dapat kembali kewujud semula setelah mengalami perubahan. Namun kenyataan di lapangan, siswa kelas V SD Negeri Padamulya Kecamatan Tanjungmedar yang berjumlah 28 orang, 12 perempuan dan 16 laki-laki, sebagian besar mengalami beberapa kesulitan sehingga tujuan pembelajaran yang diharapkan tidak tercapai dengan optimal.
Sebagaimana hasil observasi yang dilakukan pada pembelajaran IPA tentang konsep perubahan sifat benda di kelas V SD Negeri Padamulya pada hari kamis tanggal 25 Februari 2010, diperoleh data kinerja guru dan aktivitas siswa sebagai berikut :
Tabel 1.1
Hasil Observasi Terhadap Kinerja Guru dan Aktivitas Siswa
| Kinerja Guru | Aktivitas Siswa |
| Sebelum memulai pembelajaran, guru menyuruh siswa untuk membaca materi pada buku paket. | Hanya sebagian kecil siswa yang membaca materi tersebut, sebagian besarnya malah asyik bersenda gurau. |
| Pada kegiatan apersepsi, guru tidak menggali pengetahuan awal siswa secara maksimal serta tidak mengkaitkan materi pelajaran dengan materi sebelumnya sehingga materi yang diterima siswa seperti bahan ajar yang baru. | Pembelajaran dimulai dari penjelasan guru, tidak berangkat dari pengetahuan awal masing-masing siswa sehingga terdapat sebagian siswa yang kurang begitu antusias dan terlihat kesulitan mengikuti pembelajaran. |
| Guru tidak menyampaikan tujuan pembelajaran yang harus dicapai siswa setelah pembelajaran selesai sehingga siswa tidak mengetahui tujuan yang harus dicapai pada pembelajaran tentang konsep perubahan sifat benda. | Siswa tidak mengetahui tujuan yang harus dicapai setelah pembelajaran selesai. |
| Guru hanya menjelaskan konsep yang terdapat dalam buku ajar dengan menggunakan metode ceramah tanpa melibatkan siswa secara langsung dalam proses pembelajaran kemudian dilanjutkan dengan pembahasan secara verbal. | Konsentrasi siswa saat mendengarkan penjelasan guru tidak terpusat, sebagian besar siswa tidak memperhatikan penjelasan yang disampaikan guru, hanya beberapa orang saja yang terlihat memperhatikan, hal ini ditandai dengan adanya siswa yang asyik dengan kegiatan sendiri-sendiri seperti: menggambar, curat-coret, dan asyik memainkan mainan. |
| Pengelolaan kelas tidak optimal, siswa duduknya klasikal secara individual, kegiatan diskusi hanya dilakukan dengan teman sebangku. | Sebagian besar siswa kurang memahami konsep dari materi yang dibahas, selain karena buku paketnya terbatas, tidak ada kesempatan agar siswa dapat lebih mengembangkan kreatifitas dan pengetahuannya melalui diskusi kelompok yang heterogen. |
| Sebagai tahap evaluasi, guru menyuruh siswa mengerjakan sejumlah soal. | Siswa merasa kesulitan dalam menyelesaikan soal yang diberikan guru terutama dalam membuat kesimpulan. |
Adapun perolehan hasil belajar siswa pada saat dilakukan observasi pada pembelajaran tentang konsep perubahan sifat benda adalah sebagai berikut:
Tabel. 1.2
Data Hasil Tes Tertulis
| No | Nama Siswa | No Soal | Jml Skor | Nilai | Ketuntasan | ||||||||||
| 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | T | BT | ||||
| 1 | Andri Septiana | 1 | 1 | 0 | 1 | 1 | 1 | 1 | 1 | 0 | 0 | 7 | 70 | T | |
| 2 | Anita Sari | 1 | 1 | 1 | 1 | 0 | 1 | 1 | 1 | 0 | 0 | 7 | 70 | T | |
| 3 | Arifin | 1 | 1 | 0 | 0 | 0 | 1 | 1 | 1 | 0 | 0 | 5 | 50 | | BT |
| 4 | Cepi Rohdiana | 1 | 1 | 1 | 1 | 1 | 1 | 0 | 1 | 0 | 0 | 7 | 70 | T | |
| 5 | Dede Suryadi | 1 | 1 | 1 | 1 | 0 | 1 | 1 | 1 | 0 | 0 | 7 | 70 | T | |
| 6 | Devi Intan | 1 | 1 | 1 | 0 | 0 | 1 | 0 | 1 | 0 | 0 | 5 | 50 | | BT |
| 7 | Enggal Lalan | 1 | 1 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 1 | 0 | 0 | 3 | 30 | | BT |
| 8 | Fitriani | 1 | 1 | 1 | 1 | 1 | 0 | 1 | 1 | 0 | 0 | 6 | 70 | T | |
| 9 | Fifi Nuradiana | 1 | 1 | 1 | 0 | 0 | 1 | 1 | 1 | 0 | 0 | 6 | 60 | | BT |
| 10 | Idan Royani | 1 | 1 | 1 | 0 | 0 | 1 | 0 | 1 | 0 | 0 | 5 | 50 | | BT |
| 11 | Ita Nurlela | 1 | 1 | 1 | 0 | 0 | 1 | 0 | 1 | 0 | 0 | 5 | 50 | | BT |
| 12 | Iqbal Maulana | 1 | 1 | 1 | 1 | 0 | 1 | 0 | 1 | 0 | 0 | 6 | 60 | | BT |
| 13 | Lina Nurlinasari | 1 | 1 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 1 | 0 | 0 | 3 | 30 | | BT |
| 14 | Martiningsih | 1 | 1 | 0 | 1 | 0 | 1 | 0 | 1 | 0 | 0 | 5 | 40 | | BT |
| 15 | Melani | 1 | 1 | 0 | 0 | 0 | 1 | 1 | 1 | 0 | 0 | 5 | 50 | | BT |
| 16 | Mesy Fitri | 1 | 1 | 1 | 1 | 0 | 0 | 1 | 1 | 0 | 1 | 7 | 70 | T | |
| 17 | Moh. Ramdani | 1 | 0 | 0 | 1 | 1 | 1 | 0 | 0 | 1 | 1 | 6 | 60 | | BT |
| 18 | Novian Rosmiati | 1 | 1 | 1 | 0 | 0 | 1 | 1 | 1 | 0 | 0 | 6 | 60 | | BT |
| 19 | Rifki Renaldi | 1 | 1 | 1 | 0 | 0 | 1 | 0 | 1 | 0 | 0 | 5 | 50 | | BT |
| 20 | Rizal Zaelani | 1 | 1 | 1 | 0 | 0 | 1 | 0 | 1 | 0 | 0 | 5 | 50 | | BT |
| 21 | Siti Nurjanah | 1 | 1 | 1 | 1 | 0 | 1 | 0 | 1 | 1 | 1 | 6 | 90 | T | |
| 22 | Sofian | 1 | 0 | 1 | 1 | 1 | 1 | 1 | 0 | 1 | 1 | 8 | 80 | T | |
| 23 | Susi Nurhasanah | 1 | 1 | 1 | 1 | 1 | 0 | 1 | 1 | 1 | 0 | 8 | 80 | T | |
| 24 | Taufik Budiman | 1 | 0 | 1 | 1 | 1 | 0 | 0 | 0 | 1 | 1 | 6 | 60 | | BT |
| 25 | Tomi | 1 | 0 | 1 | 0 | 1 | 0 | 0 | 1 | 1 | 1 | 6 | 60 | | BT |
| 26 | Widaningsih | 1 | 1 | 1 | 1 | 1 | 0 | 1 | 1 | 1 | 0 | 8 | 80 | T | |
| 27 | Zaenal | 1 | 1 | 0 | 1 | 1 | 0 | 0 | 0 | 1 | 1 | 6 | 60 | | BT |
| 28 | Nurhakim | 1 | 0 | 1 | 0 | 1 | 0 | 0 | 1 | 1 | 1 | 6 | 60 | | BT |
| Jumlah | 10 | 18 | |||||||||||||
| Presentase (%) | 35,7 % | 64,3% | |||||||||||||


0 Komentar