Terbaru

6/recent/ticker-posts

Contoh PTK: MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATERI LUAS SEGI BANYAK MELALUI PEMBELAJARAN KOOPERATIF DI KELAS VI SD



BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Dalam pembangunan nasional, pendidikan diartikan sebagai upaya meningkatkan harkat dan martabat manusia serta dituntut untuk menghasilkan kualitas manusia yang lebih tinggi guna menjamin pelaksanaan dan kelangsungan pembangunan. Peningkatan kualitas pendidikan harus dipenuhi melalui peningkatan kualitas dan kesejahteraan pendidik dan tenaga kependidikan lainnya. Pembaharuan kurikulum yang sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa mengesampingkan nilai-nilai luhur sopan santun dan etika serta didukung penyediaan sarana dan prasarana yang memadai, karena pendidikan yang dilaksanakan sedini mungkin dan berlangsung seumur hidup menjadi tanggung jawab keluarga, sekolah, masyarakat dan pemerintah.
Pada era globalisasi, perkembangan IPTEK semakin marak di masyarakat. Maraknya perkembangan IPTEK disebabkan oleh adanya tuntutan manusia untuk berkembang dan maju dalam berbagai bidang sesuai dengan perkembangan zaman. Tuntutan tersebut, dapat diperoleh melalui informasi aktual dari peralatan IPTEK yang canggih. Pendidikan merupakan upaya untuk membentuk sumber daya manusia yang dapat meningkatkan kualitas kehidupannya. Dengan demikian kebutuhan manusia yang semakin kompleks akan terpenuhi. Selain itu melalui pendidikan akan dibentuk manusia yang berakal dan berhati nurani. Kualifikasi sumber daya manusia yang mempunyai karakteristik seperti di atas, sangat diperlukan dalam menguasai dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga mampu menghadapi persaingan global.
Sumber daya manusia merupakan salah satu faktor penting dalam keberhasilan pembangunan disegala bidang. Hingga kini pendidikan masih diyakini sebagai wadah dalam pembentukan sumber daya manusia yang diinginkan. Melihat begitu pentingnya pendidikan dalam pembentukan sumber daya manusia, maka peningkatan mutu pendidikan merupakan hal yang wajib dilakukan secara berkesinambungan guna menjawab perubahan zaman. Masalah peningkatan mutu pendidikan tentulah sangat berhubungan dengan masalah proses pembelajaran. Proses pembelajaran yang sementara ini dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan kita masih banyak yang mengandalkan cara-cara lama dalam penyampaian materinya.
Di masa sekarang banyak orang mengukur keberhasilan suatu pendidikan hanya dilihat dari segi hasil. Pembelajaran yang baik adalah bersifat menyeluruh dalam melaksanakannya dan mencakup berbagai aspek, baik aspek kognitif, afektif, maupun psikomotorik, sehingga dalam pengukuran tingkat keberhasilannya selain dilihat dari segi kuantitas juga dari kualitas yang telah dilakukan di sekolah-sekolah.
Mengacu dari pendapat tersebut, maka pembelajaran yang aktif ditandai adanya rangkaian kegiatan terencana yang melibatkan siswa secara langsung, komprehensif baik fisik, mental maupun emosi. Hal semacam ini sering diabaikan oleh guru karena guru lebih mementingkan pada pencapaian tujuan dan target kurikulum. Salah satu upaya guru dalam menciptakan suasana kelas yang aktif, efektif dan menyenangkan dalam pembelajaran yakni dengan menggunakan alat peraga. Hal ini dapat membantu guru dalam menggerakkan, menjelaskan gambaran ide dari suatu materi.
Hampir sebagian besar siswa merasakan kesulitan ketika mengerjakan soal-soal matematika khusunya menghitung luas segi banyak. Hal ini dapat dilihat dari hasil observasi terhadap pembelajaran menghitung luas segi banyak di SDN 019 Samarinda menunjukkan sebagai berikut: Pertama, guru masih menggunakan metode ceramah, tidak variasi metode. Kedua, guru menganggap pembelajaran matematika hanya dengan menghapal rumus saja. Ketiga, prestasi siswa masih belum memuaskan. Dari proses diketahui sebanyak 15 orang (60%) belum memenuhi kriteria ketuntasan minimum (KKM).
Disisi lain, secara perkembangan sosial, usia anak pada kisaran 12 tahun (Kelas 6 SD) akan cenderung membentuk kelompok berdasarkan beberapa kesamaan. Misalnya kesamaan hobi. Setiap kerap kali anak akan lebih mendengar apa kata temannya dibandingkan guru atau orangtuanya. Adakalanya mereka saling berpartisipasi dalam berbagai aktifitas kelompoknya, meski harus mengorbankan kepentingan pribadi.
Oleh karena itu, perlu dibuat sebuah pendekatan yang menjembatani antara perkembangan sosial anak ( senang berkelompok) dengan metode kerja kelompok partisipatif yang diharapkan dapat mengurangi kelemahan pada metode sejenis.
Dari latar belakang masalah diatas, dapat diidentifikasi masalah sebagai berikut:
Upaya apa saja yang dapat dilakukan untuk meningkatkan partisipasi siswa dalam belajar matematika?
Apakah penerapan metode pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan partisipasi siswa dalam belajar matematika?
Masalah apa saja yang dapat timbul dalam pembelajaran matematika dengan menggunakan metode kerja kelompok?
Penelitian ini dibatasi pada penerapan pembelajaran kooperatif untuk meningkatkan partisipasi siswa dalam kegiatan belajar matematika.


B. Rumusan Masalah
Dari hasil analisi yang telah dilakukan terdapat bebrapa hal perlu dirumuskan pemecahan masalahnya yaitu:
“Apakah melalui kooperatif dapat meningkatkan hasil belajar materi luas segi banyak pada siswa kelas 6 SD 019 Samarinda?
C. Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar materi Luas Segi banyak pada siswa kelas 6 SDN 019 Samarinda.
D. Manfaat Penelitian
Dari hasil penelitian terdapat beberapa manfaat:
1. Manfaat Ptraktis
a. Bagi Siswa
Dapat Meningkatakan kreatifitas siswa
Meningkatkan daya serap siswa
Dapat meningkatkan keberanian siswa dalam berbicara
b. Guru (sebagai peneliti)
Meningkatkan sistem pengajaran dengan lebih baik
Memudahkan dalam kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan metode yang tepat
Menemukan strategi yang efektif untuk meningkatkan hasil belajar siswa
Meningkatkan rasa percaya diri
Memungkinkan guru secara aktif mengembangkan pengetahuan dan keterampilan
2. Manfaat Teoritis
Melalui penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran dalam upaya mengembangkan kualitas pendidikan di kota Samarinda.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi bagi guru untuk meningkatkan kualitas pembelajaran disekolah agar keterampilan siswa dalam belajar matematika dapat meningkat.
E. Sistematika Penulisan
Untuk mempermudah pembahasan selanjutnya, maka penelitian ini disusun dengann sistematika sebagai berikut:
Pertama : Bagian awal, meliputi kulit luar, halaman judul, kata pengantar, daftar isi.
Kedua : inti skripsi yang terdiri atas :
Bab I, merupakan bab pendahuluan yang didalamnya dikemukakan uraian tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, mafaat penelitian dan sistematika penelitian.
Bab II, dikemukakan dasar teoritis yang diperoleh dari hasil penilitian kepustakaan, berupa definisi, metode, hipotesis tindakan, dan definisi koseptual.
Bab III, mengenai metode penilitian yang dipergunakan antara lain meliputi seting penelitian dan karakteristik subjek penelitian, rancangan penelitian, sumber data, teknik dan alat pengumpul data, indikator kinerja, analisi data dan sikus penelitian.















BAB II
KAJIAN TEORI
A. Definisi
(Hopkins, 1993) perubahan dari kekolaborasian serta dari supervisi kemonitoring yang membawa dampak adanya perubahan relasi atasan bawahan menjadi relasi kolegial. Dan dari hubungan hirarkial menjadi hubungan dalam tim (kelompok). Ini membuktikan bahwa dengan metode kerja kelompok mampu meningkatkan keberhasilan siswa dan guru dalam proses belajar mengajar disekolah.
(Raka Joni, Kardiawarman, dan hadi Subroto, 1998) membangun sendiri pengetahuan inilah yang diistilahkan sebagi theorizing by practitioners, yang membangun sendiri pengetahuan (self contructed knowledge). Hasil yang ditemukan sendiri akan merupakan dorongan yang kuat bagi guru untuk terus menerus melakukan perbaikan.
(Raka Joni, Kardiawarman, Hadi Subroto, 1998) memperbaiki praktek pembelajaran dengan sasaran akhir memperbaiki belajar siswa. Dengan adanya Penelitian tindakan Kelas kesalahan dalam proses pembelajaran akan cepat dianalisis dan diperbaiki, sehingga kesalahan tersebut tidak akan berlanjut.
(Hargreaves dalam Hopkins, 1993) sekolah yang berhasil mendorong terjadinya inovasi pada diri guru, telah berhasil pada meningkatkan kualitas pendidikan untuk para siswa. Sekolah yang para gurunya terampil melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas tentu akan memetik manfaat dari proses pembelajarannya.
Slavin mendefinisikan Cooperative learning sebagai berikut: Cooperative learning methods share the idea that students work together to learn and are responsible for one another’s learning as well as their own.
Pembelajaran kooperatif merupakan suatu metode dimana siswa belajar bersam-sama dalam kelompok tersebut saling bertanggungjawab satu dengan yang lain (Slavin,1997).
Menurut (Artzt dan Newman, 1990), cooperative learning didefinisikan sebagai berikut: Cooperative learning is an approach that involves as small group of learners working together as a team to solve a problem, complete a task. Or accomplish a common goal. Pembelajaran kooperatif merupakan pendekatan dimana para siswa dibentuk dalam kelompok kecil untuk memecahkan masalah.
Winter (dalam Mc Taggert, 1991) guru hanya ingin melakukan sesuatu untuk memperbaiki hasil belajar siswa. Dengan metode kooperatif siswa mampu mempergunakan pikiran temannya untuk dijadikan acuan bagi ahsil kerjanya sendiri. Dengan demikian kolaborasi antara nalar teman dan nalarnya sendiri dapat dipadukan sehingga dapat menjawab segala permasalahan dalam pembelajaran.
Shumsky dan Holly (dalam Mc Taggart, 1991) sekolah harus memberikan kebebasan yang memadai bagi guru untuk melakukan perbaikan tindakan kelas, berkolaborasi dengan teman guru lainnya. Ini berarti keberhasilan seorang guru bukan hanya ditentukan oleh pola pikirnya sendiri, malinkan juga dipengaruhi oleh rekan kerjanya dalam satu instansi tersebut, ada[pun lembaga yang lains ebagai unsur penunjang.

B. Metode
Pengertian pembelajaran kooperatif merupakan suatu metode diamana siswa belajar bersama-sama dalam kelompok dan anggota dalam kelompok tersebut saling bertanggungjawab satu dengan yang lain.
Teknik-tehmik belajar kooperatif yaitu: pertama, siswa dibentuk dalam beberapa kelompok. Kedua, kelompok-kelompok tersebut merupakan kelompok kecil. Ketiga, siswa didalam kelompok melakukan kegiatan belajar bersama. Keempat, masing-masing anggota kelompok bertanggungjawab terhadap keberhasilan anggotanya. Kelima, yang dipelajari dapat berupa masalah, tugas atau hal-hal lain yang menjadi tujuan bersama.
C. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan uraian sebelumnya, maka disusunlah hipotesis tindakannya adalah melalui penerapan pembelajaran kooperatif diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam materi luas segi banyak pada mata pelajaran matematika.
D. Definisi Konseptual
Metode kerja kelompok mampu meningkatkan keberhasilan siswa dan guru dalam proses belajar mengajar disekolah.
Hasil yang ditemukan sendiri akan merupakan dorongan yang kuat bagi guru untuk terus menerus melakukan perbaikan.
Dengan Penelitian tindakan Kelas kesalahan dalam proses pembelajaran akan cepat dianalisis, dan diperbaiki sehingga kesalahan tersebut tidak berlanjut.
Pembelajaran kooperatif merupakan suatu metode dimana siswa belajar bersama-sama dalam kelompok saling bertanggiungjawab satu dengan tyang lain.
Pembelajaran kooperatif merupakan pendekatan dimana para siswa dibentuk dalam kelompok-kelompok kecil untuk memecahkan suatu masalah, menyelesaikan tugas, atau mencapai tujuan bersama.
Denagn metode kooperatif siswa mampu mempergunakan pikiran temannya untuk dijadikan acuan bagi hasil kerjanya sendiri. Dengan demikian kolaborasi antara nalar teman dan nalarnya sendiri dapat dipadukan sehingga dapat menjawab segala permasalahan dalam pembelajaran.
Keberhasilan seorang guru bukan hanya ditentukan oleh poka pikirnya sendiri, melainkan juga dipengaruhi oleh rekan kerjanya dalam satu instansi tersebut, adapun lembaga lain sebagai sistem penunjang.









BAB III
METODE PENELITIAN

A. Seting Penelitian dan Karakteristik Subjek Penelitian
Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SDN 019 Samarinda yang beralamat di Jalan Banggeris kelurahan Teluk Lerong Ulu Kecamatan Sungai Kunjang.
2. Waktu Penelitian
Penelitian dimulai dari tanggal 31 Januari sampai dengan 31 Februari 2011.
3. Objek Penelitian
Penelitian mengambil objek siswa kelas VI yang berjumlah 25 orang dan terdiri dari 11 laki-laki dan 14 perempuan. Karakteristik siswa di kelas tersebut adalah memiliki karakter yang sama seperti kelas yang lain, artinya tingkat kemampuan/prestasi balajar cenderung sama dengan kemampuan atau prestasi kelas lainnya, demikian keadaan ekonominya.
Sehingga menggerakkan peneliti untuk mengadakan penelitian tindakan kelas dalam upaya peningkatan hasil belajar siswa melalui metode kooperatif (kerja kelompok).
4. Siklus Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
Penelitian Tindaka Kelas ini dilakukan melalui dua siklus untuk melihat peningkatan partisipasi siswa dalam kegiatan mengikuti materi luas segi banyak melalui pembelajaran kooperatif.


B. Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian terdiri dari empat fase pada setiap siklusnya yaitu:
Perencanaan (Planning)
Tindakan (Acting)
Pengalaman (Observing)
Refleksi (Reflecting)
1. Tahap Perencanaan
Sebelum Penelitian tindakan Kelas dilaksanakan, dibuat berbagai input instrumental yang akan digunakan untuk memberi perlakuan dalam Penelitian, yaitu:
Membuat skenario
Membuat RPP
Membuat lembar Observasi
Membuat alat evaluasi
2. Tahap Pelaksanaan / Tindakan
Pelaksanaan tindakan dilakukan secara pembelajaran kooperatif dengan membagi siswa dalam kelas menjadi kelompok-kelompok kecil (3-5 orang) dam satu kelompok.
Materi penelitian ini berupa gabungan bangun datar yang membentuk segi banyak yang dibuat dari potongann karton.
Setiap kelompok membahas luas segi banyak dari rangkaian bangun datar yang telah diambilnya.
Pelaksanaan tindakam dilakukan 2 kali pertemuan, dengan setiap pertemuan 3 jam pelajaran untuk setiap siklusnya.
Seberapa besar pembelajaran kooperatif meningkatkan kemampuan menghitung luas segi banyak.
C. Sumber Data
1. Siswa
Untuk mendapatkan data tentang partisipasi siswa dalam pembelajaran luas segi banyak pada mata pelajaran matematika.
2. Kolaborator
Untuk melihat implementasi Penelitian Tindakan Kelas
D. Teknik dan Alat Pengumpul Data
Teknik Pengumpulan Data
Prites digunakan untuk mengumpulkan data tentang hasil belajar siswa.
Observasi digunakan untuk mengumpulkan data tentang partisipasi siswa dalam pembelajaran luas segi banyak pada mata pelajaran matematika.
Diskusi antara teman sejawat dan kolaborator untuk refleksi hasil siklus Penelitian Tindakan Kelas.
Alat Pengumpul Data
Alat pengumpul data dalam penelitian ini meliputi: tes, observasi dan diskusi.
E. Indikator Kinerja
Dalam Penelitian Tindakan Kelas ini, yang dapat dilihat indikator kerjanya adalah siswa, sebagai berikut:
1. Tes : rata – rata pre test, tes 1 dan tes 2
2. Observasi : partisipsi siswa dalam pembelajaran luas segi banyak pada mata pelajaran matematika
F. Analisis Data
Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif yang meliputi:
1. Tes dilihat dari rata-rata yang didapat dari setiap tes yang diadakan.
2. Partisipasi siswa dilihat dari kondisi siswa dalam kerja kelompok
Jenis penelitian ini adalah PTK (Penelitian Tindakan Kelas) yang akan dilaksanakan dalam dua siklus, siklus pertama dan kedua dilaksanakan dalam tiga kali pertemuan. Penelitian ini bersifat deskriftif yang artinya hanya memaparkan data yang diperoleh melalui observator dan tes hasil belajar. Data yang dianalisis meliputi hal-hal sebagai berikut:
a. Kemampuan guru merencanakan pembelajaran.
Analisis yang digunakan adalah deskripsi, memaparkan data dari pedoman penilaian RPP.
b. Kemampuan guru melaksanakan pembelajaran.
Analisis yang digunakan adalah deskripsi, memaparkan data dari pedoman observasi guru.
c. Keaktifan siswa dalam pembelajaran.
Analisis yang dilakukan adalah deskripsi, memaparkan data dari pedoman observasi siswa.
d. Peningkatan hasil belajar siswa setiap siklus
Nilai hasil belajar siswa diperoleh dari gabungan antara nilai tugas (LKS) dan nilai tes akhir siklus. Nilai dianalisis dengan analisis data sederhana yaitu rata-rata dan nilai persentase.
1). Rumus rata-rata (mean)

M=x/n
Keterangan:
M = Nilai rata-rata hasil belajar siswa
n = Banyaknya siswa
x = Jumlah nilai seluruh siswa

2). Rumus Nilai Akhir
Keterangan:
NA = Nilai Akhir
NT = Skor tugas dan Skor Formatif
NH = Skor tes hasil belajar

3). Rumus Peningkatan
P = x 100 %
Keterangan :
P = persentase peningkatan
a = selisih nilai rata-rata akhir siswa pada setiap siklus
b = nilai rata-rata akhir siswa pada siklus sebelumnya

4. Rambu-rambu analisis proses
Adapun rambu-rambu yang bisa diteliti pada penelitian ini adalah
a. Siswa mendengarkan penjelasan guru
b. Siswa dapat menjawab pertanyaan yang disampaikan oleh guru
c. Siswa mengikuti intruksi guru
d. Keberanian siswa bertanya
e. Siswa dapat menghargai pendapat orang lain
f. Siswa dapat mengatur pembagian tugas dengan baik
g. Mendorong teman untuk bertanya
h .Siswa bertanggung jawab untuk menyelesaikan tugasnya
i. Siswa dapat menyemangati teman yang lain untuk mengerjakan tugasnya
j. Siswa dapat menyelesaikan tugas sesuai wakttunya
k. Siswa dapat menghargai perbedaan individu
Untuk mengetahui nilai pencapaian rambu-rambu analis proses maka digunakan kriteria penilaian yang terdapat pada tabel berikut.
Tabel 1.1 Kriteria Penilaian Pencapaian Proses pembelajaran
Rata-rata Nilai Nilai Huruf Kriteria
80-100 A Sangat Baik
70-79 B Baik
60-69 C Cukup
50-59 D Kurang
0-39 E Gagal
(sumber: Bahanudin, 1993:396)



b. Rambu-rambu analisis hasil
Rambu-rambu analisis hasil dalam penelitian ini yaitu dihitung berdasarkan skor awal. Dan melihat dari tes akhir yang diberikan oleh guru. Adapun penghitungan skor individu dan kelompok seperti di bawah ini:
1. Menurut Slavin(dalam ibrahim, dkk. 2000), untuk memberikan skor perkembangan individu dihitung seperti pada tabel 1.1 di bawah ini:

Tabel 1.2 Perhitungan Skor Perkembangan Individu
Kriteria Nilai Perkembangan
Lebih dari 10 poin skor di bawah skor dasar
10 poin skor di bawah sampai 1 poin di bawah skor dasar
Skor dasar sampai 10 poin di atas skor dasar
Lebih dari 10 poin di atas skor dasar
Pekerjaan sempurna (tanpa memperhatikan skor dasar) 0 poin
10 poin

20 poin
30 poin
30 poin

2. Menghitung skor kelompok
Skor kelompok ini dihitung dengan membuat rata-rata skor perkembangan anggota kelompok, yaitu dengan menjumlah semua skor perkembangan yang diperoleh anggota kelompok dibagi dengan jumlah anggota kelompok, diperoleh kategori skor kelompok seperti tercantum pada tabel 1.2.

Tabel 1.3 Perhitungan Skor Kelompok
Rata-rata poin peningkatan Kriteria
0 5
5
15
25 -
Kelompok baik
Kelompok Hebat
Kelompok super

Peningkatan hasil belajar IPA siswa dapat dilihat melalui perbandingan nilai hasil belajar siswa pada siklus sebelumnya. Nilai hasil belajar pada siklus 1 dibandingkan dengan nilai awal (dokumentasi dari guru). Nilai hasil belajar pada siklus I akan dibandingkan dengan hasil belajar pada siklus II.

1. Kemampuan guru merencanakan pembelajaran.
Bobot 4 :Kategori : Sangat baik (A)
Bobot 3 : Kategori : Baik (B)
Bobot 2 : Kategori : Cukup (C)
Bobot 1 : Kategi : Kurang (D)
Bobot 0 : Kategori : Kurang Sekali (E)
2. Kemampuan guru melaksanakan pembelajaran.
Nilai ≥ 80 : Kategori : Baik Sekali (A)
Nilai 70-79 : Kategori : Baik (B)
Nilai 60-69 : Kategori : Cukup (C)
Nilai 60 : Kategori : Kurang (D)

3. Keaktifan siswa dalam pembelajaran.
NILAI JUMLAH SISWA PERSENTASE KATEGORI
≥ 80 22-27 ≥ 76 % A
70-79 15-21 51 % - 75 % B
60-69 8-14 26 % - 50 % C
< 60 1-7 < 25 % D

4. Peningkatan hasil belajar siswa setiap siklus
Untuk mengukur keberhasilan tiap-tiap siklus dalam penelitian tindakan kelas ini, tolak ukurnya adlah sistem belajar tuntas yaitu pencapaian nilai 65 berdasarkan KKM (Kriteria ketuntasan Minimal) sekolah.

G. Siklus Penelitian
1. Siklus 1
Silus dalam penelitian ini terdiri dari:
a. perencanaan (Planning)
Peneliti dan kolaborator melakukan analis kurikulum untuk mengetahui kompetensi dasar yang akan disampaikan kepada siswa dengan menggunakan pembelajaran kooperatif.
Membuat rencana pembelajaran
Mengumpulkan data nilai harian sebelumnya
Membuat lembar hasil pekerjaan
Membuat instrumen yang akan digunakan dalan siklus penelitian
b. Tindakan (Action)
Membuat siswa dalam 5 kelompok
Menyajikan materi pelajaran
Diberikan soal untuk didiskusikan
Melakukan pengamatan atau observasi
c. Pengamatan (Observation)
Situasi dan kegiatan belajar mangajar
Partisipasi siswa dalam kelompok
d. Refleksi (Reflecting)
Berdasarkan analisis yang dilakukan, maka dapat ditentukan apakah siklus selanjutnya perlu dilanjutkan atau tidak. Sedangkan poenelitian akan diakhiri atau diuhentikan dengan kriteria sebagai berikut:
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan proses pembelajaran sesuai rencana dan 60% siswa memperlihatkan partisipasi yang tinggi dalam pembelajaran matematika materi luas segi banyak.
Tes yang diberikan pada setiap akhir siklus 60% dari jumlah siswa mendapatkan skor lebih dari ( ≥ ) nilai rata-rata tes keseluruhan siswa.
70% kelompok dapat menyelesaikan tugas tepat waktunya
2. Siklus 2
Siklus kedua dalam penelitia Tindakan Kelas ini juga sama dengan siklus satu yang terdiri dari:
Perencanaan (Planning)
Peneliti dan kolaborator membuat rencana pembelajaran berdasarkan hasil refleksi pada siklus pertama
b. Tindakan (Action)
Peneliti melaksanakan pembelajaran sesuai perencanaan hasil refleksi siklus pertama
c. Pengamatan (Observation)
Peneliti dan kolaborator melakukan pengamatan terhadap aktivitas pembelajaran.
d. Refleksi (Reflecting)
Peneliti dan kolaborator melakukan refleksi terhadap pelaksanaan siklus kedua dan menganalisi untuk membuat kesimpulan.
Apabila dalan siklus 2 belum berhasil, maka akan dilakukan siklus ketiga

DAFTAR PUSTAKA
Agustina. 2007. Magic’s – Cara Kreatif Belajar Matematika. Yogyakarta : ANDI.
Depdiknas. 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan 2006. Jakarta : Depdiknas.
Depdiknas. 2009. Bahan Ajar Diklat Bahasa Indonesia Bagi Guru SD. Jakarta : PPPPTK Bahasa.
Hargreaves. (dalam Hopkins, 1993). Penelitian Tindakan Kelas .Jakarta:Universitas Terbuka.
Heruman.2007.Model Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar. Bandung:PT. Remaja Rosdakarya.
Ibrahim, Muslimin, dkk. 2000. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: Universitas Negeri Surabaya.
M.Khafid. 2007. Matematika Kelas 6 Jilid VIA. Jakarta: Erlangga.
Siswanto W, Subanji.2010. Model-Model Pembelajaran Kraetif dan Inovatif. Malang: universitas Negeri Malang.
  sumber: http://wwwaitacom.blogspot.com/2011/01/tugas-penelitian-tindakan-kelas.html

Baca Juga: Cara Menarik Lainnya di Kategori Ini

Posting Komentar

0 Komentar